Bandung, 15 Agustus 2009
13.00 WIB
Malam tadi saat aku nonton tv,ternyata di ANTV ada acara penghargaan dari Achmad Bakrie Award 2009. Sontak aku langsung menghentikan aktivitasku sejenak untuk melihat siapa pemenang dari masing-masing kategori.
Saat pembacaan nama pemenang untuk kategori bidang sains, aku terlonjak kaget karena ternyata yang menang adalah Pak Pantur Silaban yang selama ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para mahasiswa ITB yang biasa menggunakan buku fisika dasar universitas terbitan Erlangga.
Yap, beliau adalah penulis buku fisika universitas yang kukenal baik karena beliau juga salah seorang dosen di progam studi Fisika. Mungkin saat aku masih di TPB (Tahap Persiapan Bersama) ITB, satu-satunya buku eksak karangan asli orang Indonesia adalah buku fisika dasarku. Selebihnya, berbagai macam nama asing dari negara-negara maju.
Saat profil beliau ditayangkan, aku terhenyak sekaligus terharu melihat betapa beruntungnya aku pernah diajari beliau (walaupun hanya sekali). Ternyata, di balik otak beliau yang luar biasa, beliau adalah orang yang sangat sederhana yang sangat dekat dengan keluarga. Bahkan, beliau terkesan sangat rendah hati dan menyatakan bahwa apa yang didapatkan beliau ini semata-mata karena Tuhan yang selalu membimbing beliau di setiap langkah hidupnya.
Pak Pantur Silaban adalah orang Indonesia pertama, bahkan di dunia, yang berhasil menemukan persamaan relativitas umum untuk benda titik. Beliau memanfaatkan ini untuk fase akhir dari kematian bintang raksasa merah, yaitu Black Hole atau Lubang Hitam. Luar Biasa!!! Aku sampai merinding mendengarnya.
Saat profil beliau ditayangkan, ada sesi dimana beliau duduk di ruangannya sambil bercerita tentang kehidupan beliau. Papan tulis di belakang beliau penuh dengan rumus-rumus yang tentu saja untuk orang awam sepertiku seperti berada di dunia matrix yang isinya angka-angka semua!!! Ada semacam quote yang ditulis beliau,kalau diartikan ke bahasa Indinesia seperti ini: “Orang yang dikelilingi oleh harta berlimpah dan sejumlah penghargaan, hanya akan menjerumuskan orang tersebut ke dalam kelicikan.” Kira-kira seperti itu artinya. Quote ini bukan sembarang quote. Suatu hari ada seorang pemenang nobel sedang mengajari beliau. Lalu, si pemenang nobel bercerita bahwa orang yang dikelilingi oleh harta dan penghargaan besar dapat terjerumus dalam kelicikan dan kesombongan. Jadilah beliau selalu mengingat pesan dari pemenang nobel tersebut hingga sekarang.
Ada yang membuat aku sangat miris ketika melihat kehidupan beliau. Saat itu beliau mengatakan bahwa penghargaan yang diterima beliau ini adalah penghargaan pertama yang pernah diterima beliau untuk penelitian bertahun-tahun tersebut. Beliau mengatakan bahwa mungkin banyak orang yang mempertanyakan ketertarikan dan penelitian beliau ini. Katanya: “Mengapa kita harus capek-capek membuang waktu untuk meneliti seberapa luas alam semesta dan berapa kira-kira suhu di di surga dan neraka?” Para hadirin tertawa saat mendengar ucapan beliau tersebut. Lalu beliau melanjutkan bahwa semua itu dilakukan untuk memenuhi rasa ketertarikan luar biasa seorang manusia tentang alam semesta yang pastinya dengan penuh keyakinan, ada yang menciptakan. Ini bagian yang membuatku tertawa sekaligus terharu akan keyakinan dan perjuangan beliau.
Ada sesi saat istri beliau bercerita tentang mobil milik suaminya. Kata istri beliau, Pak Pantur Silaban tidak ingin menjual mobil tuanya. Menurutnya, orang yang suka gonta-ganti mobil adalah orang yang suka gonta-ganti istri, tidak setia. Satu hal lagi yang membuatku kagum akan kehidupan beliau.
Sekarang mungkin usia Pak Pantur Silaban telah beranjak senja. Aku tidak tahu apakah beliau sekarang sudah pensiun atau belum. Tapi yang aku tahu, aku bangga pernah sekali diajari beliau tentang Teori Relativitas Einstein. Walaupun pada akhirnya aku hanya dapat menangkap beberapa hal mendasar tentang teori tersebut, tapi satu hal pasti yang diucapkan beliau, “Hanya orang bodoh yang mengakui bahwa dia mampu menguasai teori relativitas einstein dalam waktu satu bulan. Saya bahkan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mampu menguasainya.”
Ya,,,seperti ilmu pengetahuan, tidak ada batas umur yang cukup untuk menguasai dan memahaminya secara sempurna. Mulai dari kemunculan Nabi Adam a.s. hingga saat hari kiamat mungkin tidaklah cukup untuk menyusun mozaik-mozaik misteri alam semesta.
P.S. : Semoga suatu saat aku bisa mengikuti jejak beliau. Rasa ingin tahu yang mendalam telah meluluhlantahkan tirani-tirani kebodohan di dalam pemikiran manusia. Buat pemerintah dan pihak terkait, semoga semakin banyak penghargaan-penghargaan yang diberikan untuk para ilmuwan. Mereka mungkin tidak banyak merasakan manfaat dari penemuan dan karya yang dibuat karena selama ini orang-orang yang berkecimpung di dunia teknik lah yang banyak mendapatkan reward. Padahal, tanpa ilmuwan, teknologi tidak akan berkembang banyak. Ilmuwan adalah para pemikir besar yang hidup dalam rasa keingintahuan dan kesederhanaan. Semoga Indonesia menjadi lebih maju dan banyak memiliki ilmuwan-ilmuwan besar yang pastinya memberikan banyak kontribusi untuk negara ini.